Sunday, February 9, 2014

Untukmu, yang ke sekian kalinya.

February 09, 2014 0 Comments

Ini adalah surat yang entah ke berapa kali nya yang aku tujukan untukmu, beginilah aku. Kamu harus tahu tidaklah mudah menjadi aku, tidaklah mudah menjadi aku yang selalu merindukanmu. Menjadi aku yang merindukanmu sementara kamu mengingatku pun tidak. Jika saat ini aku katakan bahwa hidup ini tidak adil, mungkin iya bagiku. Aku yang dengan giatnya kamu abaikan, masih saja disini merindukanmu. Tanpa tahu hingga kapan aku akan merindukanmu sebagai seseorang yang aku cintai, mungkin. Kamu yang begitu sulit untuk digapai, dan aku yang kali ini sudah terlalu lelah untuk berjuang. Kamu yang terus menerus ingin untuk diperjuangkan sementara aku tak pernah diperjuangkan. Aku terus saja mengejarmu dan berusaha mendapatkanmu dengan berbagai cara, sementara kamu, hanya datang dan pergi sesukamu.

Saturday, February 8, 2014

Yang belum mau beranjak..

February 08, 2014 0 Comments
Pernahkah kamu merasa detak jantungmu berdebar dua kali lebih kencang dari biasanya ketika kamu mendapati seseorang yang kamu sukai atau seseorang yang kamu sayangi mengirimimu sebuah pesan? Apakah itu perasaan bahagia atau hanya sekedar karena kamu menaruh perasaan lebih? Namun perasaan yang kamu rasakan itu masih sama seperti saat pertama kali kamu mendapatkan sebuah pesan dari orang tersebut, tidak ada yang berbeda dan tidak ada yang berubah.

Thursday, February 6, 2014

Lelaki berkemeja kotak-kotak.

February 06, 2014 0 Comments

Untuk lelaki berkemeja kotak-kotak,



Hai kamu lelaki yang berkemeja kotak-kotak, setidaknya itu yang dapat mataku tangkap ketika pertama kalinya aku melihatmu di kampus. Seingatku, itu adalah senin pagi ketika aku terlambat datang ke kampus, entah apa rencana tuhan saat itu. Secara tak sengaja aku dipertemukan denganmu, walaupun mungkin saat itu hanya aku saja yang menyadarinya, mungkin kamu tidak. Ketika itu aku sedang bergegas untuk menuju kelas, namun dalam keadaan sedang genting karena terlambat aku mampu berhenti sejenak untuk meperhatikan siapa kamu yang duduk manis sendirian di bangku kayu itu. Entah apa yang kamu tunggu saat itu, yang aku ingat hanya kamu yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwana hitam dan merah begitu rapi dan dengan kacamata yang tersemat di wajah tampanmu. Diam-diam aku berhenti dan terdiam untuk beberapa saat hanya untuk memperhatikanmu, dari kejauhan. Saat itu kamu sedang membaca sebuah buku, alis tebal itu bergerak naik turun mungkin seirama dengan apa yang sedang kau baca dan mengartikan ekspresimu ketika itu. Saat itu aku seolah lupa bahwa aku sedang dalam keadaan genting karena terlambat, waktu seolah berhenti sejenak hanya untuk melihatmu dari kejauhan. 

Wednesday, February 5, 2014

Kepada teman tersayang.

February 05, 2014 0 Comments

Untuk teman-teman tersayang,


Untuk seluruh teman kesayangan yang menjadi jodohku hingga saat ini, aku akan sangat berterimakasih atas maha baiknya tuhan mempertemukan aku dengan kalian dan bahkan bertahan hingga detik ini. Bukan hal yang mudah menjadi kita, dengan isi kepala yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, tuhan mempertemukan kita untuk setidaknya saling melengkapi dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Tuhan memberikan peluang kepada kita satu sama lain sebagai teman untuk membimbing satu dengan lainnya, untuk mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk, untuk mengingatkan mana yang harus kamu lanjutkan dan mana yang harus kamu tinggalkan, untuk setia denganmu di kala suka dan duka, untuk menemanimu dan bersedia mendengarkan segala keluh kesahmu tentang permasalahan hidup yang dirasa sulit untuk dilalui sendiri. Tuhan sungguh maha baik telah mempersiapkan ini semua bagi kita.

Tuesday, February 4, 2014

Surat untuk @sedimensenja

February 04, 2014 0 Comments

Teruntuk @sedimensenja,


Halo, kak. Selamat pagi, siang, sore ataupun malam ketika dirimu sedang membaca surat dariku ini. Sejujurnya, aku tak tahu harus menulis apa di surat yang mungkin isinya tidak terlalu penting ini, yang jelas, aku rasa aku harus mengirim surat padamu atas segala kekagumanku pada semua tulisanmu.
Jika surat ini harus dimulai dengan basa-basi, mungkin alangkah baiknya aku memulainya dengan menanyakan bagaimanakah kabarmu? Semoga cuaca buruk yang menimpa sebagian besar wilayah di Indonseia ini tak ada pengaruhnya dengan kesehatanmu, ya. Masih harus basa-basi atau cukup saja? Ah aku kira cukup saja…

Monday, February 3, 2014

Satu surat lagi untuk kamu.

February 03, 2014 0 Comments

Kepada kamu,

Hai, selamat siang, jika di tempatmu masih siang aku harap kamu tidak lupa untuk makan siang. Jadi, masih bolehkah aku menanyakan bagaimana kabarmu? Setidaknya setelah bertahun-tahun lamanya kita tak pernah bertatap muka, mungkin aku boleh mengetahui bagimana keadaanmu sekarang? Jadi, bagaimana? Masih ingat denganku? Jika ada sebuah pertanyaan yang diberikan kepadaku, yang menanyakan siapakah aku ini? Mungkin hanya akan mampu aku jawab, ini adalah aku yang lupa bagaimana caranya agar tidak jatuh cinta padamu (lagi). Iya, mungkin seperti itu.

Entah siapa yang membuatku amnesia akan hal ini, bagaimana agar tidak lagi mencintaimu seolah tak pernah ada di kepalaku ini. Seolah yang aku tahu hanyalah bagaimana untuk tetap mencintaimu, tanpa menghilangkannya. Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Apakah itu semua sengaja aku lakukan? Entahlah, aku pun tak mengerti.

Saturday, February 1, 2014

Mungkin ini curhat.

February 01, 2014 0 Comments

Aku tak pernah banyak menuntut, aku pun tak pernah banyak meminta, aku tak pernah meminta suatu hal yang begitu berat, apalagi memaksa, hanya sebuah kesediaan yang aku mau, sebuah kesadaran diri tanpa paksaan, satu permintaan yang mungkin tak akan aku minta berulang kali.
Nampaknya entah aku yang salah atau orang-orang yang tak lagi peduli, atau aku bukanlah prioritas utama bagi mereka, mereka memiliki hal yang lebih penting dibandingkan aku yang mereka rasa harus lebih diutamakan.. Begitu menurutku, bukan aku yang asik dan sibuk dengan duniaku, ini mungkin hanyalah caraku mengalihkan perhatian agar aku tak banyak mengingat hal-hal yang mungkin kurang menyenangkan untuk diingat terus menerus. Seseorang yang aku anggap dia adalah proiritas dalam hidupku belum tentu menganggap aku pun sebagai prioritas dalam hidupnya.