Showing posts with label Cerpen Ala-Ala. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Ala-Ala. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

Senja, Hujan, dan Pelangi..

January 03, 2013 0 Comments
*kring kring*
Ada pesan lagi yang masuk, entah pesan dari siapakah itu.
Sengaja ku abaikan, aku sedang tak ingin diganggu, oleh karena itu aku batalkan semua janji di hari ini. Janji yang aku batalkan menurutku, janji yang aku batalkan secara sepihak, menurutku saja.
Sore ini, lagi dan lagi aku memutuskan untuk mengunci diriku sendiri didalam kamarku, menolak dunia dan menenggelamkan diri dalam kamar sempit ini. Menenggelamkan diriku bersama secangkir coklat hangat dan iringan lagu-lagu beraliran jazz yang mengalun dari laptopku.
Sengaja, agar aku bisa menikmati sore yang seharusnya disambut sang senja yang gagah itu seperti biasa yang aku lakukan setiap sore, tapi sayangnya soreku hari ini ditemani hujan gerimis yang manis yang menari membasahi bumi.

Saturday, December 8, 2012

Terjebak nostalgia.

December 08, 2012 0 Comments
Masih terikat dengan orang yang sama namun tentu dalam waktu yang berbeda.
Malam itu, tak sengaja aku menemukan sosokmu yang tersimpan di laci meja kayu tempat dimana aku menaruh lampu tidurku, aku menemukanmu dalam bentuk sebuah gambar dimana kita tersenyum manis disana, berdua. Ketika aku mengobrak-abrik isi laci dengan cemas mencari flashdisk ku yang berharap akan ku temukan disana karena mungkin aku lupa menyimpannya tapi ternyata yang aku temukan adalah sosok kita dengan tawa riang di masa lalu. Iya, kamu. Masa lalu, begitu aku mengejamu.

Wednesday, August 8, 2012

Di bangku taman.

August 08, 2012 0 Comments
Dia yang ada disana, wanita manis berhidung mancung dan juga berdagu lancip, rambut terurai panjang dan dengan senyuman manisnya yang terpancar sedang duduk manis sendirian di sudut taman di sebuah bangku taman berwarna coklat mengkilap menikmati semilir angin di sore hari menunggu hingga matahari terbenam, ingin hatiku menghampirinya yang sedang duduk sendirian hanya bersama headphone dan mp3 nya. Sore ini aku hanya bisa mengamatinya dari kejauhan, menganalisa setiap gerakannya. Duhai wanita manis, siapakah kamu? Rasa-rasanya baru kali ini aku melihatmu ada disana duduk dengan headphone nya. Duhai wanita manis yang duduk di bangku taman berwarna coklat mengkilap, siapakah gerangan?

Air Mata

August 08, 2012 0 Comments
Kita hanya terus terdiam tanpa kata, tanpa lirikan, tatapan, apalagi sentuhan, hanya angin yang melewati kupingku dan secangkir teh yang mulai mendingin seiring dengan kita yang diam tanpa sepatah kata pun. Aku, ragu untuk memulainya. Tatapan matanya sungguh tidak enak di hati ini, matanya memerah karena menahan amarah, wajahnya menekuk menunjukkan dia tidak dalam kondisi mood yang baik. Dia marah padaku dan enggan melirikku sedikit pun. Sebesar apa kesalahanku sehingga dia memperlakukan aku seperti ini? Hanya karena dia memergoki aku sedang bertemu dengan Nina mantan pacarku, dia terlalu cepat mengambil keputusan. Dia terlalu cepat menyimpulkan apa yang telah dia lihat, padahal sebenarnya apa yang telah dia lihat tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, aku dan Nina pergi ke tempat makan hanya untuk sekedar mengobrol bersama karena kami sudah lama sekali tidak bertemu, aku dan Nina berteman baik setelah kami putus namun Olivia selalu saja mengira kami masih saling menyimpan rasa dan Olivia menjadi sangat posesif, ayolah Olivia seharusnya kamu sadar! Selama aku milikmu, tentu saja perasaan sayang dan cintaku hanya untukmu tanpa perlu untuk kamu pertanyakan lagi. Namun jika aku terus-menerus dibuat seperti ini, aku tidak nyaman dan bisa saja aku pergi dari Olivia untuk mencari wanita yang dapat mengerti aku. Seisi kepalaku sangat gaduh dengan berbagai macam pikiran yang tak karuan.

Karena dia.

August 08, 2012 0 Comments
Aku tidak pernah membayangkan ini semua akan menjadi bagian skenario hidupku yang dibuatkan tuhan. Pengalaman hidup paling menyebalkan. Mimpi apa aku hingga bisa bertemu dengan seseorang seperti dia? Tak pernah terbesit sedikit pun dalam benakku aku bisa mengenal dia. Iya dia, mungkin seseorang yang benar-benar telah mengobrak-abrik hidupku, merubah seluruh tatanan hidupku, membuat hidupku kadang baik dan kadang menjadi sangat buruk, iya memang begitu adanya, semua hal pernah terjadi disini. Bertemu dengan seseorang yang sangat menyebalkan tapi begitu aku cintai pada akhirnya, ya beginilah cara tuhan mempertemukanku dengan dia, inilah cara tuhan memperbaiki hidupku, ini pula jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Jika aku bisa memilih dan diperbolehkan untuk memilih, aku tidak ingin dipertemukan dengannya yang membuat aku kacau disaat ini. Aku hanya ingin hidupku kembali tenang dan bahagia sekalipun harus tanpa dia. Dia memang pernah membuatku bahagia di masa dulu, namun sekarang tanpanya justru aku hilang arah, bahagiaku seolah tertahan bersamanya, ikut pergi bersamanya. Dia membawa bahagiaku jauh, bersamanya.

Long Distance Relationship.

August 08, 2012 0 Comments
Apa kamu percaya pada hubungan jarak jauh? Apalagi yang berasal dari dunia maya?
Ini yang terjadi padaku, bertemu dengan seorang wanita yang tak pernah terbayangkan bisa aku temui dan bahkan bisa aku miliki walaupun hanya untuk sesaat. Kegilaanku pada musik yang menuntunku padanya, kegilaanku dan kesukaanku pada musik yang mempertemukan aku dengannya, musik mungkin yang sangat berperan dalam apa yang ku alami dengan wanita ini. Menurutku dia wanita yang sangat ideal, menyukai musik yang sama denganku.
Olivia namanya, dia adalah seorang penyuka aliran hardcore yang keras tentunya. Aku tahu sangat jarang seorang wanita yang menyukai aliran musik seperti ini, aku tahu bahwa wanita sangat identik dengan kelembutan. Ketika aku tahu itu yang dia miliki, itu menjadi nilai plus untuknya dari segi pandanganku. Saat itu aku tahu dia tinggal di Yogyakarta sementara aku sendiri di Bandung, aku rasa sedikit tidak mungkin. Itu yang pertama ada dalam benakku, apa jarak ini mengganggu? Tentu saja. Tapi bagaimana aku bisa mengaguminya? Dia seorang yang tomboy, tapi karena itu lah aku menyukainya.

Ada cinta dibalik hujan.

August 08, 2012 0 Comments
Hujan ini nampaknya berjanji untuk selalu mengingatkan aku padamu.
Sebab, hujan selalu menghadirkan mu kembali dalam otakku.
Gemericiknya seolah menelusuk dan mengingatkanku padamu, lagi dan lagi.

"Kamu kehujanan, sini pake jaket aku aja ya biar kamu engga kehujanan" katanya padaku dengan lembut

"Engga engga, nanti kamu basah, udah gapapa pake aja." kataku meyakinkannya

"Eh engga bisa gitu, kamu ini cewe, masa iya aku tega biarin cewe kehujanan dan kedinginan sementara aku enak-enakan, apalgi cewe nya itu pacar aku. Pake yah, nurut sama aku biar kamu engga sakit, sini aku pakein kalo masih dingin sini aku peluk" kata Rio padaku dengan sedikit memaksa

Haruskah aku?

August 08, 2012 0 Comments
Senja kembali menyapaku yang sedang duduk manis di belakang rumah dengan secangkir teh hangat dan sebuah novel yang sedang aku selesaikan membacanya. Novel ini baru saja aku beli kemarin siang dari sebuah toko buku ternama di kota ini. Senja sudah menyapa dan artinya sore sudah tiba. Aku terhanyut hingga tak sadar bahwa hari sudah sore. Aku terhenti di halaman 92. Rasanya ada sesuatu dibalik angka ini. Tapi aku lupa dan aku sedang mencoba untuk mengingat ada apa di balik angka itu.

Aku segera bergegas merapikan novel, teh dan semua yang ada disana. Aku bergegas menuju kamar untuk bersiap mandi, nampak nya setelah menghentikan sejenak membaca novel itu pikiranku jadi kabur dan melayang. Aku mencoba mengingat sesuatu yang mungkin pernah aku ingat atau aku alami. Aku saat itu benar-benar lupa apa yang sebenarnya aku pernah alami dibalik angka 92 itu. Apakah itu hanya sebuah angka? Sebuah halaman? Sebuah angka dari sebuah tahun lahir milik seseorang? Atau sebuah angka yang ada sangkut paut nya denganku? Atau kah sebuah tanggal dan bulan? Atau apa? Mengapa bisa aku lupa. Sejauh ini kah aku berjalan dari masa lalu? Jika berjalan mungkin aku masih berjalan perlahan dan tidak akan sejauh ini, aku sudah berlalri, berlari terlalu jauh dari masa lalu.

Aku menemukanmu.

August 08, 2012 0 Comments
Sudah genap satu tahun aku berada disini mendampingi seorang pria yang aku cintai kelebihan dan kekurangannya. Iya, Dia Shandi. Pilihanku tidak salah saat aku memilihnya, aku yakin. Buktinya sudah genap satu tahun aku bersamanya, berdiri disini di tempat yang sama setiap harinya. Shandi, rasa cintaku padanya memang berjalan seperti ini, mengalir dan kadang tak terkendali. Biarkan, dia selalu mengerti alurnya seperti apa. Dia bagian dari hidupku dan begitupun aku seperti katanya. Dia seorang yang sangat dingin namun dia selalu tahu bagaimana cara memanjakanku. Dia tak pernah banyak bicara di depan banyak orang, hanya ketika kita sedang berdua dia bahkan bisa lebih cerewet dariku. Oh beginilah aslinya.

Waiting In Vain.

August 08, 2012 0 Comments

Ini tahun ketiga perjuanganku mengejarmu. Apa yang harus aku lakukan di tahun ketiga ini? Tetap meneruskan hingga tahun keempat ataukah berhenti di tahun ke tiga? Jika orang-orang terdekatku tetap terus memaksaku untuk mundur dan menghentikan semua usahaku, tidak dengan keinginanku. Aku masih teguh dengan pendirianku untuk mendapatkan kamu, tak peduli sesering apa kau memperlakukan aku dengan apa yang kata orang menyakitkan. Aku tak pernah pedulikan kata orang, aku hanya pedulikan kataku dan katamu untuk hal ini. Aku hanyalah tempat sandaranmu, ketika kau lelah, ketika kau sedih, ketika kau merasa dunia menolakmu, kau selalu datang untuk mencari pelukanku. Ini adalah saat dimana ketika aku merasa aku berharga untukmu. Arsya, kau Masih menyita seluruh pikiranku hingga saat ini. Seorang wanita yang sudah aku perjuangkan mati-matian, aku korbankan seluruh perasaanku. Aku relakan semua kesakitanku, terlebih ketika aku harus menunggumu selama 2 tahun karena kau masih bersama pacarmu. Kau tahu? Rasanya aku ingin membunuh pacarmu ketika aku lihat dia bersamamu. Memegang tanganmu, mengelus rambutmu, merangkulmu dan bahkan memelukmu didepan mataku. Tidakkah kau tahu remuknya hatiku saat itu? Kau tidak pernah tahu.

Senja, Hujan, dan Pelangi..

August 08, 2012 0 Comments
*kring kring*
Ada sms lagi yang masuk, entah dari siapa itu.
Sengaja ku abaikan, aku sedang tak ingin diganggu, oleh karena itu aku batalkan semua janji di hari ini. Sore ini, lagi dan lagi aku memutuskan untuk mengunci diriku sendiri didalam kamarku, menolak dunia dan menenggelamkan diri dalam kamar sempit ini. Menenggelamkan diriku bersama secangkir coklat hangat dan iringan lagu-lagu beraliran jazz dari laptopku.
Sengaja, agar aku bisa menikmati sore yang seharusnya disambut sang senja yang gagah itu seperti biasa yang aku lakukan setiap sore, tapi sayangnya soreku hari ini ditemani hujan gerimis yang manis.